Category: Profil

Andy RoxburghSkotlandia merupakan bagian dari negara persemakmuran Inggris. Tak heran jika negara tersebut menjadi salah satu negara penyuplai pemain di Premier League. Sebut saja nama-nama beken seperti Kenny Dalglish, Denis Law, Jim Baxter, Gordon Strachan, Graeme Souness dan masih banyak pemain hebat lainnya yang merupakan produk asli Skotlandia.

Selain terkenal sebagai suplayer pemain, Skotlandia juga memiliki nama-nama manajer top yang berkecimpung di Premier League seperti Bill Struth, Graeme Souness, Kenny Dalglish, David Moyes dan tentu saja yang paling mahsyur adalah Sir Alex Ferguson.

Namun kendati demikian, prestasi timnas Skotlandia tidaklah mentereng atau bisa dibilang minim prestasi. Skotlandia bahkan tak pernah merasakan atmosfer Euro semenjak turnamen tersebut pertama kali digelar pada tahun 1960.

Namun nasib timnas Skotlandia seakan berubah ketikan tim yang berjuluk The Tartan Army itu ditukangi oleh Andy Roxburgh. Di dua tahun pertamanya menjadi manajer Skotlandia, ia gagal membawa Skotlandia lolos ke putaran Final Euro 1988. Namun kegagalan tersebut ia tebus dengan membawa Skotlandia lolos ke ajang yang lebih bergengsi yakni Piala Dunia 1990. Torehan apiknya pun berlanjut saat ia sukses membawa Skotlandia lolos ke Euro untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Meskipun di babak penyisihan grup, Skotalndia tak mampu berbicara banyak karena tergabung di grup neraka bersama Belanda, Jerman, dan CIS (Cikal Bakal Timnas Russia). Namun lolosnya Skotlandia ke Euro menjadi catatan sejarah baru bagi persepakbolaan negara tersebut.

Roxburgh memilih untuk mengundrukan diri dari jabatannya sebagai pelatih Skotlandia usia gagal membawa The Tartan lolos ke Piala Dunia 1994. Namun karirnya justru semakin meroket usai mengundurkan diri dati timnas Skotlandia. Ia ditunjuk menjadi direktur teknis UEFA sesaat setelah mengundurkan diri.

Read Full Article

Rainer BonhofMungkin tak banyak yang mengenal nama Rainer Bonhof. Namun bagi publik Die Fohlen, Borussia Monchengladbach nama Bonhof adalah sosok legenda klub. Bonhof merupakan generasi emas dari kejayaan Borussia Monchengladbach di era 70-an. Bonhof berhasil membawa Borussia Monchengladbach menjadi jawara Bundesliga pada tahun 1971 dan juara tiga kali beruntun pada periode 1975-1977. Namjn itu semua bukanlah puncak prestasi dari seorang Bonhof. Prestasinya yang paling mentereng adalah sebagai pemain yang paling banyak memenangkan medali final Euro sepanjang masa.

Pertama kali ia masuk ke dalam skuad timnas Jerman Barat adalah pada tahun 1972. Ia diberi kepercayaan oleh pelatih Jerman Barat saat itu, Helmut Schon untuk melakoni debut bersama timnas senior Jerman Barat. Bersamaan dengan itu, Bonhof merupakan salah satu dati tiga pemain muda yang dibawa Schon ke pagelaran Euro 1972 bersama dengan dua rekan lainnya yakni Uli Hoeneb dan Paul Breitner. Di edisi Euro 1972, Bonhof hanya menjadi pemain cadangan. Namun pada edisi tersebut Jerman Barat berhasil menjadi juara setelah di laga final menumbangkan Uni Soviet dengan skor telak 3-0.

Kiprah Bonhof tak hanya sampai disana. Berkat penampilan apiknya bersama Monchengladbach, Bonhof kembali dipanggil oleh Helmut Schon ke Euro 1976. Namun bedanya kali ini, Bonhof sudah menjadi bagian dari tim inti Jerman Barat.

Pada Euro 1976, Bonhof sukses mengantarkan Jerman Barat melaju hingga partai final sebelum di laga pamungkas tersebut mereka dikalahkan oleh Cekoslovakia dengan tendangan penalti Antonin Panenka yang sensasional tersebut. Dan hingga saat ini belum ada pemain manapun yang mampu menyamai pencapaian Bonhof sebagai pemain yang paling banyak mengoleksi medali Euro. Bonhof tercatat menjadi pemilik medali Final Euro terbanyak sepanjang sejarah dengan rincian dua medali juara dan satu medali runner up.

Read Full Article

Antonio ConteChelsea telah resmi menetapkan Antonio Conte sebagai manajer barunya musim depan menggantikan Guus Hiddink. Pelatih Italia tersebut mendapat kontrak senilai 20 juta poundsterling dengan durasi selama tiga tahun. Bergabungnya Conte lantas menambah panjang fakta menarik pelatih berusia 46 tahun tersebut. Apa saja? Yuk simak ulasan dibawah ini.

1. Conte merupakan pelatih ke-10 yang masuk ke skuad Chelsea semenjak klub tersebut dibeli oleh Roman Abramovich pada tahun 2003 silam. Sebelum Conte sudah ada sembilan nama yang mencoba peruntungannya di Stamford Bridge. Sembilan nama tersebut adalah.

* Claudio Ranieri – 2003-04
* Jose Mourinho – 2004-07
[Premier League x2 (2004-05, 2005-06), FA Cup (2006-07), League Cup (2004-05 dan 2006-07)] dan panggilan kedua pada tahun 2013-15 [Premier League (2014-15), League Cup (2014/15)]
* Avram Grant – 2007-08
* Luiz Felipe Scolari – 2008-09
* Guus Hiddink – 2009
[FA Cup (2008-09)] dan panggilan keduanya pada tahun 2015-16
* Carlo Ancelotti – 2009-11
[Premier League (2009-10), FA Cup (2009-10)]
7. Andre Villas-Boas – 2001-12
* Roberto Di Matteo – 2012
[Champions League (2011-12), FA Cup (2011-12)]
* Rafael Benitez – 2012-13 [Europa League (2012/13)

2. Fakta menarik kedua adalah Conte merupakan pelatih Italia kelima yang membesut The Blues. Sebelumnya Chelsea sudah pernah dilatih oleh empat pealtih asal Italia lainnya yakni Gianluca Vialli, Claudio Ranieri, Carlo Ancelotti dan juga Roberto Di Matteo.

3. Saat masih menjadi pemain, Conte telah mempersembahkan banyak gelar bersama Juventus. Adapun catatan gelar Conte adalah:
• Serie A: 1995. 1997, 1998, 2002, 2003
• UEFA Cup: 1993
• Champions League: 1996

4. Conte memulai debut sebagai pelatih pada tahun 2004. Adapun tim-tim yang pernah dilatihnya adalah:
• Arezzo: 2006-2007
• Bari: 2007-2009
• Atalanta: 2009-2010
• Siena: 2010-2011
• Juventus: 2011-2014
• Italia: 2014-2016
• Chelsea: 2016-??

Read Full Article

Alvaro MorataBelum lama ini, Juventus melalui lama resminya mengumumkan bahwa Alvaro Morata terpilih sebagai pemain terbaik Juventus untuk periode Maret 2016. Laman tersebut menyebutkan bahwa cukup sulit untuk menentukan pemain terbaik Juventus edisi bulan Maret, karena banyak pemain yang mampu menampilkan performa apik.

Saingan terkuat Morata adalah Paul Pogba dan Gianluigi Buffon. Pogab sendiri telah menampilkan perfoma yang impresif sejak awal musim. Sementara Buffon telah mencatatkan sejumlah rekor clean sheets. Namun pada akhirnya pernghargaan pemain terbaik edisi bulan Maret diberikan kepada Alvaro Morata.

Jika melihat torehan golnya, Morata terbilang biasa saja, ia pun masih kalah dari Paulo Dybala. Dari enam laga yang sudah dilakoni pada bulan lalu, mantan bomber Real Madrid itu hanya mampu menceploskan dua gol saja. Namun yang membuatnya istimewa adalah secara keseluruhan penampilan bomber berusia 23 tahun tersebut terbilang amat krusial.

Cuplikan performa terbaik Morata terlihat jelas saat laga melawan Bayern Muncehn di Allianz Arena pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions silam. Morata saat itu mampu tampil super apik dan menghasilkan assist brilian dengan aksi individu melewati dua pemain, untuk gol Juan Cuadrado. Namun sayangnya, tuan rumah mampu membalikkan keadaaan secara dramatis.

Selain itu, Morata berhasil menjadi pahlawan Derby della Mole di markas Torino. Kendati saat itu ia turun sebagai pemain pengganti, Morata mampu menceploskan dua gol yang membawa Juve menang 4-1.

Read Full Article